SAMPAH MENJADI BERKAH

IMG-20191107-WA0010

Masalah sampah menjadi masalah yang serius di Desa Botekan. Desa Botekan termasuk desa yang padat penduduk dan padat rumah. Selain itu Desa Botekan adalah Desa Industri konveksi. Sehingga sampah rumah tangga maupun sampah industri konveksi di Desa Botekan sangat banyak.

Masalah selanjutnya yaitu minimnya lahan untuk membuang sampah di Desa Botekan, karena di Desa Botekan adalah desa padat rumah dan padat penduduk. Akhirnya banyak masyarakat yang membuang sampah ke sawah-sawah maupun depan rumah. Hal ini sangat mempengaruhi kelestarian alam, kebersihan desa dan masalah kesehatan.

Dari masalah tersebut akhirnya muncul ide agar Desa Botekan mampu mengelola sampah dengan baik. Mengelola sampah artinya mampu menghilangkan sampah bukan hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat yang lain. Maka cara yang ditempuh oleh desa untuk mengatasi masalah sampah adalah membentuk tim sampah yang bekerja mengatasi sampah serta bisa mendapat penghasilan dari sampah tersebut. Tim sampah terdiri dari 10 orang yaitu Kholil, Haryanto, Agus Priyanto, Winarso, Fathuri, Supriyanto, Cipto Putro L, Eko Santoso, Alimin, dan Kamaludin. Tim sampah tersebut berasal dari anggota karang taruna, pemuda punk yang diberi pendekatan, serta masyarakat Desa Botekan yang memang bersedia dan semangat mengatasi sampah. Tim sampah mulai bekerja menangani sampah pada bulan Januari 2019

20191107_114054

Pengelolaan sampah di Desa Botekan dilakukan dengan tahapan pengambilan sampah ke rumah warga, penampungan sampah, pemilahan sampah yang selanjutnya sampah yang bisa dijual rongsok dipisahkan, sedangkan sampah yang tidak laku jual dikeringkan kemudian di bakar di tempat pembakaran sampah desa yang jauh dari pemukiman.

Sudah ada 550 rumah yang mempercayakan sampah sampahnya untuk dikelola oleh tim sampah Desa Botekan. Tiap rumah harus membayar 15.000 per bulan untuk jasa pembuangan sampah tersebut. Sehingga pengelolaan sampah di desa Botekan menjadi peluang usaha yang menjanjikan jika digeluti dengan telaten. Hasil yang didapat pada pengelolaan sampah di Desa Botekan mencapai 8 juta sampai 9 juta tiap bulan. Hasil tersebut diperoleh dari pembayaran uang sampah dari masyarakat yang mempercayakan sampah sampahnya di kelola oleh tim sampah Desa Botekan serta dari penjualan sampah laku jual ke tuakang rongsok.

Tim sampah di ketuai oleh kholil pemuda Desa Botekan. Pekerjaan sehari harinya selain sebagai pengelola sampah desa adalah tukang jahit konveksi. Dia mengaku dari pengelolaan sampah desa, tiap bulan dia bisa mendapatkan upah 900 rb sampai 1 juta yang dapat menjadi penghasilan tambahan.

Menurut kholil keberhasilan usaha pengelolaan sampah di desa Botekan sekarang ini tidak dicapai dengan mudah, butuh pengorbanan, keikhlasan dan kerja keras hingga sampah menjadi berkah sekarang ini. Pada awal pengolahan sampah desa, desa belum memiliki tempat pembakaran sampah yang jauh dari pemukiman. Jadi pengelolahan sampah bukan menghilangkan sampah tapi hanya memindahkan sampah dari desa Botekan ke TPS lain. Tentu cara demikian tidak dapat dilakukan terus menerus. Akhirnya ada masyarakat desa Botekan yang suka rela menghibahkan tanahnya yang jauh dari pemukiman warga untuk dibuat tempat pembakaran sampah dengan dana desa tahap 3.

Pada awal usaha pengelolaan sampah di bulan pertama dan bulan kedua hasil belum dirasakan. Karena hanya da 50 rumah saja yang mempercayakan sampah-sampahnya untuk dikelola tim sampah Desa. Kholil dan tim sampah juga hanya bermodalkan 1 tossa sponsor dari desa sehingga kurang efektif untuk mengangkut sampah sampah warga.

Dengan prinsip kerja keras dan kerja ikhlas usaha pengelolaan sampah Desa Botekan sudah memiliki 3 alat angkut sampah, dan hasil tiap bulan yang mencukupi untuk kebutuhan para pekerjanya. Namun tim sampah Desa Botekan dan pemerintahan Desa Botekan akan terus berusaha dan berinovasi agar usaha pengelolaan sampah dapat lebih baik, menghasilkan berkah yang lebih bagi para pekerja dan masyarakat serta dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada saat ini.

Tidak ada sesuatu yang sempurna, tentu usaha pegelolaan sampah Desa Botekan juga memiliki kekurangan. Pengelolaan sampah dengan pembakaran sampah-sampah yang tidak berguna menyebabkan polusi udara. Ini menjadi PR besar bagi tim sampah dan pemerintahan Desa Botekan agar dapat berinovasi mengelola sampah dengan menghilangkan sampah tanpa menimbulkan efek samping polusi udara.

Artikel by Sri Mulyati/admin IT/Kesra

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *